GLOBALISASI
Pengenalan
Rentang Jalur Sutra dan rute perdagangan rempah milik Kesultanan Utsmaniyah pada masa penjelajahan tahun 1453
Perpindahan manusia, barang, dan ide secara global meluas pada abad-abad selanjutnya. Pada abad ke-15 dan 16, bangsa Eropa membuat rintisan terpenting dalam penjelajahan samudra, salah satunya adalah pelayaran transatlantik ke "Dunia Baru" yang disebut Amerika. Pada awal abad ke-19, perkembangan bentuk transportasi baru (seperti kapal uap dan rel kereta) dan telekomunikasi yang menyusutkan ruang dan waktu memungkinan terjadinya interaksi global dengan sangat cepat.[9] Pada abad ke-20, kendaraan darat, angkutan intermodal, dan maskapai penerbangan membuat transportasi semakin cepat. Penemuan telekomunikasi elektronik, seperti telepon genggam dan Internet, membuat miliaran orang bisa saling terhubung dengan berbagai cara pada tahun 2010.
Peta kabel telegraf bawah laut milik Eastern Telegraph Company tahun 1901. Inilah contoh globalisasi teknologi modern pada awal abad ke-20.
Etimologi dan penggunaan
Istilah globalisasi' diambil dari kata globalize yang mengacu pada kemunculan jaringan sistem sosial dan ekonomi berskala internasional.[10] Istilah ini pertama kali digunakan sebagai kata benda dalam sebuah tulisan berjudul Towards New Education; kata 'globalisasi' di sini menunjukkan pandangan pengalaman manusia secara menyeluruh di bidang pendidikan.[11] Istilah serupa, corporate giants (raksasa perusahaan), dicetuskan oleh Charles Taze Russell pada tahun 1897[12] untuk menyebut perusahaan-perusahaan besar nasional pada waktu itu. Tahun 1960-an, kedua istilah tadi mulai dijadikan sinonim oleh para ekonom dan ilmuwan sosial lainnya. Ekonom Theodore Levitt diakui secara luas sebagai pencipta istilah kata 'globalisasi' melalui artikelnya yang berjudul "Globalization of Markets". Artikel ini terbit di Harvard Business Review edisi Mei–Juni 1983. Namun, kata 'globalisasi' sebelumnya sudah banyak digunakan (setidaknya sejak 1944) dan dipakai oleh beberapa pengamat sejak 1981.[13] Levitt bisa dianggap sebagai orang yang memopulerkan kata ini dan memperkenalkannya ke kalangan pebisnis utama pada paruh akhir 1980-an. Sejak dirumuskan, konsep globalisasi telah menginspirasi sejumlah definisi dan interpretasi, mulai dari cakupan perdagangan dan imperium besar di Asia dan Samudra India pada abad ke-15 sampai seterusnya.[14][15] Karena konsep ini begitu rumit, banyak proyek penelitian, artikel, dan diskusi yang tetap berfokus pada aspek tunggal globalisasi.[1]Roland Robertson, dosen sosiologi Universitas Aberdeen, salah satu penulis pertama di bidang globalisasi, mendefinisikan globalisasi pada tahun 1992 sebagai:
Sosiolog Martin Albrow dan Elizabeth King mendefinisikan globalisasi sebagai:...pemadatan dunia dan pemerkayaan kesadaran dunia secara keseluruhan.[16]
Di The Consequences of Modernity, Anthony Giddens memakai definisi berikut:...semua proses yang menyatukan penduduk dunia menjadi satu masyarakat dunia yang tunggal.[2]
Di Global Transformations, David Held dan lainnya mendefinisikan globalisasi sebagai:Globalisasi dapat diartikan sebagai intensifikasi hubungan sosial dunia yang menghubungkan tempat-tempat jauh sehingga peristiwa di suatu tempat dapat dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di tempat lain sekian kilometer jauhnya dan sebaliknya.[17]
Dalam buku The Race to the Top: The Real Story of Globalization, jurnalis Swedia Thomas Larsson menyatakan bahwa globalisasi adalah:Meski dalam artian paling sederhananya globalisasi mengacu pada pelebaran, pendalaman, dan pemercepatan interkoneksi global, definisi semacam itu perlu dijelaskan lebih jauh lagi. ... Globalisasi dapat ditempatkan di dalam satu kontinuum bersama lokal, nasional, dan regional. Di satu ujung kontinuum, terdapat hubungan dan jaringan sosial dan ekonomi yang berbasis lokal dan/atau nasional; di ujung lain, terdapat hubungan dan jaringan sosial dan ekonomi yang menguat pada skala interaksi regional dan global. Globalisasi dapat merujuk pada proses perubahan ruang-waktu yang menopang transformasi susunan kehidupan manusia dengan menghubungkan sekaligus memperluas aktivitas manusia melintasi wilayah dan benua. Tanpa melihat kaitan keruangan seperti itu, istilah ini takkan bisa dirumuskan secara jelas atau runtun. ... Definisi globalisasi yang tepat harus bisa mencakup elemen-elemen berikut: jangkauan, intensitas, kecepatan, dan pengaruh.[18]
Jurnalis Thomas L. Friedman memopulerkan kata "flat world" (dunia datar). Ia berpendapat bahwa perdagangan global, outsourcing, rantai suplai, dan kekuatan politik telah mengubah dunia lebih baik atau buruk secara permanen. Ia menegaskan bahwa globalisasi berlangsung semakin cepat dan pengaruhnya terhadap organisasi dan praktik bisnis akan terus berkembang.[20]...proses penyusutan dunia sehingga jarak semakin pendek dan segala hal terasa semakin dekat. Globalisasi mengacu pada semakin mudahnya interaksi antara seseorang di satu tempat dengan orang lain di belahan dunia yang lain.[19]
Ekonom Takis Fotopoulos mendefinisikan "globalisasi ekonomi" sebagai pembebasan dan deregulasi pasar komoditas, modal, dan tenaga kerja yang berujung pada globalisasi neoliberal masa kini. Ia memakai istilah "globalisasi politik" untuk menyebut kemunculan kaum elit transnasional dan hilangnya negara bangsa. "Globalisasi budaya" digunakan untuk menyebut homogenisasi budaya dunia. Istialh lainnya adalah "globalisasi ideologi", "globalisasi teknologi", dan "globalisasi sosial".[21]
Manfred Steger, dosen studi global dan ketua riset di Global Cities Institute di RMIT University, mengidentifikasi empat dimensi globalisasi empiris utama: ekonomi, politik, budaya, dan ekologi, ditambah dimensi kelima (ideologi) yang melintasi empat dimensi lainnya. Menurut Steger, dimensi ideologi dipenuhi oleh serangkaian norma, klaim, kepercayaan, dan penjelasan tentang fenomena itu sendiri.[22]
Pada tahun 2000, International Monetary Fund (IMF) mengidentifikasi empat aspek dasar globalisasi: perdagangan dan transaksi, pergerakan modal dan investasi, migrasi dan perpindahan manusia, dan pembebasan ilmu pengetahuan.[7] Di sektor perdagangan dan transaksi, negara-negara berkembang telah meningkatkan pangsa perdagangan dunianya dari 19 persen tahun 1971 menjadi 29 persen pada tahun 1999. Akan tetapi, ada perbedaan besar di sejumlah kawasan. Misalnya, negara industri baru (NIE) di Asia berhasil, sedangkan seluruh negara di Afrika gagal. Barang yang diekspor negara merupakan indikator kesuksesan yang penting. Ekspor barang pabrikan meningkat dan didominasi oleh negara-negara maju dan NIE. Ekspor komoditas seperti makanan dan bahan mentah biasanya berasal dari negara-negara berkembang. Pangsa total ekspor komoditas menurun seiring waktu.
Dari sini, pergerakan modal dan investasi dapat dipandang sebagai aspek dasar globalisasi yang lain. Arus modal swasta ke negara-negara berkembang naik sepanjang 1990-an, menggantikan "bantuan" atau "bantuan pembangunan" yang berkurang setelah awal 1980-an. Investasi langsung asing (FDI) menjadi kategori paling penting. Investasi portofolio dan kredit bank meningkat namun semakin volatil dan akhirnya anjlok akibat krisis keuangan akhir 1990-an. Antara 1965–90, jumlah tenaga kerja yang bermigrasi bertambah dua kali lipat. Sebagian besar migrasi terjadi antara negara berkembang dna negara kurang maju (LDC).[23]
Paul James, Direktur United Nations Global Compact Cities Programme, berpendapat bahwa empat bentuk globalisasi yang berbeda juga bisa dibedakan sehingga melengkapi dan melintasi semua dimensi globalisasi.[24] Menurut James, bentuk globalisasi dominan yang tertua adalah globalisasi berwujud, yaitu perpindahan manusia. Bentuk dominan tertua kedua adalah globalisasi lembaga, yaitu sirkulasi agen dari berbagai institusi, organisasi, dan badan, termasuk agen-agen imperial. Bentuk ketiganya, globalisasi objek, merupakan pergerakan komoditas dan objek tukar lainnya. Perpindahan ide, gambar, ilmu pengetahuan, dan informasi di dunia disebut globalisasi tak berwujud, dan saat ini globalisasi tak berwujud merupakan bentuk yang paling dominan. James berpendapat bahwa pengelompokkan semacam ini memungkinkan kita memahami bahwa bentuk globalisasi yang paling berwujud seperti perpindahan pengungsi dan migran justru semakin dibatasi, sedangkan bentuk yang paling tak berwujud seperti sirkulasi instrumen keuangan semakin tidak dibatasi.[25]
Pengertian
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Jan Aart Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
- Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
- Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
- Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
- Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
- Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.[26]
Sejarah
Ada penyebab jauh dan dekat yang dapat ditemukan pada faktor-faktor sejarah yang memengaruhi globalisasi. Globalisasi berskala besar dimulai pada abad ke-19.[9]Kuno
Dalam skema ini, ada tiga penyebab yang dipaparkan sebagai pemicu globalisasi. Penyebab pertama adalah pemikiran Timur yang berarti bahwa negara-negara Barat telah mengadaptasi dan menerapkan prinsip-prinsip yang dipelajari dari Timur.[27] Tanpa ide tradisional dari Timur, globalisasi Barat tidak akan terjadi sebagaimana mestinya. Penyebab kedua adalah jarak; interaksi antarnegara belum berskala global dan masih berada di seputaran Asia, Afrika Utara, Timur Tengah, dan sebagian Eropa.[27] Pada globalisasi awal, negara masih sulit berinteraksi dengan negara lain yang letaknya jauh. Kemajuan teknologi kemudian memungkinkan negara mengetahui keberadaan negara lain yang letaknya jauh, dan fase globalisasi yang baru pun terjadi. Penyebab ketiga adalah saling ketergantungan, kestabilan, dan regularitas. Jika suatu negara tidak bergantung dengan negara lain, tidak ada cara lain bagi negara tersebut untuk memengaruhi dan dipengaruhi oleh negara lain. Inilah salah satu penggerak utama di balik hubungan dan perdagangan global. Tanpa keduanya, globalisasi tidak akan berjalan seperti yang sudah-sudah dan negara akan tetap bergantung pada produksi dan sumber dayanya sendiri supaya bisa terus berdiri. Sejumlah pakar berpendapat bahwa globalisasi kuno tidak berjalan seperti globalisasi modern karena negara-negara waktu itu tidak saling bergantung seperti sekarang.[27]
Ada pula sifat multipolar dalam globalisasi kuno yang melibatkan partisipasi aktif bangsa non-Eropa. Karena globalisasi kuno sudah ada sebelum Pembelahan Besar abad ke-19, masa ketika Eropa Barat memiliki produksi industri dan hasil ekonomi yang lebih maju ketimbang kawasan lain di dunia, globalisasi kuno menjadi fenomena yang tidak hanya digerakkan oleh Eropa tetapi juga oleh wilayah Dunia Lama yang ekonominya sudah maju seperti Gujarat, Bengal, pesisir Cina, dan Jepang.[28]
Tanaman asli Dunia Baru yang tersebar ke seluruh dunia: Jagung, tomat, kentang, vanila, karet, kakao, tembakau
Modern Awal
Globalisasi modern awal atau proto-globalisasi mencakup periode sejarah globalisasi antara 1600 dan 1800. Konsep proto-globalisasi pertama kali diperkenalkan oleh sejarawan A. G. Hopkins dan Christopher Bayly. Istilah ini berarti fase peningkatan hubungan dagang dan pertukaran budaya yang menjadi ciri khas periode sebelum munculnya globalisasi modern pada akhir abad ke-19.[29] Fase globalisasi ini dicirikan oleh bangkitnya imperium maritim Eropa pada abad ke-16 dan 17. Imperium pertama yang muncul adalah Portugal dan Spanyol, kemudian muncullah Belanda dan Britania. Pada abad ke-17, perdagangan dunia berkembang lebih jauh ketika perusahaan kerajaan (chartered company) seperti British East India Company (didirikan tahun 1600) dan Vereenigde Oostindische Compagnie (didirikan tahun 1602, sering dianggap sebagai perusahaan multinasional pertama yang membuka sahamnya) didirikan.[30]Globalisasi modern awal berbeda dengan globalisasi modern dalam hal tujuan ekspansionisme, cara mengelola perdagangan global, dan tingkat pertukaran informasi. Periode ini ditandai oleh banyaknya perjanjian dagang seperti yang dilakukan East India Company, peralihan hegemoni ke Eropa Barat, terjadinya konflik berskala besar antara negara besar seperti Perang Tiga Puluh Tahun, dan munculnya komoditas baru seperti perdagangan budak. Perdagangan Segitiga memungkinan Eropa mendapatkan keuntungan dari sumber-sumber daya di dunia barata. Perpindahan hewan, tanaman, dan wabah penyakit yang dikaitkan dengan konsep Pertukaran Columbus oleh Alfred Crosby juga memainakn peran penting dalam proses ini. Perdagangan dan komunikasi modern awal melibatkan banyak kelompok masyarakat, termasuk pedagang Eropa, Muslim, India, Asia Tenggara, dan Cina, terutama di kawasan Samudra Hindia.
Britania Raya
pada abad ke-19 menjadi kekuatan super ekonomi pertama di dunia berkat
teknologi pabriknya yang superior dan sistem transportasi global yang
maju seperti kapal uap dan rel kereta api.
Modern
Sepanjang abad ke-19, globalisasi mulai mendekati bentuknya yang modern akibat revolusi industri. Industrialisasi memungkinkan standardisasi produksi barang-barang rumah tangga menggunakan ekonomi skala, sedangkan pertumbuhan penduduk yang cepat menciptakan permintaan barang yang stabil. Pada abad ke-19, kapal uap sangat menghemat biaya transportasi internasional dan rel kereta menjadikan transportasi darat lebih murah. Revolusi transportasi terjadi antara 1820 dan 1850.[9] Jumlah negara yang ikut dalam perdagangan internasional semakin banyak.[9] Globalisasi pada masa ini sangat dipengaruhi oleh imperialisme abad ke-19 seperti yang terjadi di Afrika dan Asia. Penemuan kontainer kapal tahun 1956 turut memajukan globalisasi perdagangan.[31][32]Setelah Perang Dunia Kedua, para politikus berhasil mewujudkan konferensi Bretton Woods, perjanjian yang disepakati negara-negara besar untuk menyusun kebijakan moneter internasional, perdagangan dan keuangan, dan pembentukan sejumlah lembaga internasional yang bertujuan memfasilitasi pertumbuhan ekonomi, pembebasan perdagangan secara bertahap, dan penyederhanaan dan pengurangan batasan perdagangan. Awalnya, General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) mengeluarkan beberapa perjanjian untuk menghapus batasan perdagangan. GATT kemudian digantikan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk mengelola sistem perdagangan. Ekspor nyaris berlipat dari 8,5% total produk bruto dunia tahun 1970 menjadi 16,2% tahun 2001.[33] Pemanfaatan perjanjian global untuk memajukan perdagangan terhambat oleh gagalnya putaran negosiasi Doha. Banyak negara yang beralih ke perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral yang lebih kecil, misalnya Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Serikat–Korea Selatan 2011.
Sejak 1970-an, penerbangan semakin terjangkau bagi kelas menengah di negara-negara berkembang Kebijakan langit terbuka dan maskapai bertarif rendah ikut mendorong persaingan pasar. Pada tahun 1990-an, pertumbuhan jaringan komunikasi bertarif rendah memangkas biaya komunikasi antarnegara. Banyak hal yang bisa dilakukan melalui komputer tanpa memedulikan lokasinya seperti akuntansi, pengembangan perangkat lunak, dan desain rekayasa.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, keterhubungan ekonomi dan kebudayaan dunia tumbuh sangat cepat. Pertumbuhan ini melambat sejak 1910-an sampai seterusnya akibat Perang Dunia dan Perang Dingin,[34] tetapi berhasil melaju lagi sejak kebijakan neoliberal dirintis tahun 1980-an dan perestroika serta reformasi ekonomi Cina Deng Xiaoping membawa paham kapitalisme barat ke Blok Timur lama.[35] Pada awal 2000-an, sebagian besar negara maju mengalami Resesi Besar,[36] sehingga memperlambat proses globalisasi untuk sementara.[37][38][39]
Perdagangan dan globalisasi telah berevolusi jauh pada masa kini. Masyarakat yang terglobalisasi memiliki serangkaian pendorong dan faktor yang terus mendekatkan manusia, kebudayaan, pasar, kepercayaan, dan aktivitasnya.[40]
Teori
Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:- Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
-
- Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
- Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).
- Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
- Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai "seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung". Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.
Aspek
Indeks Ketersaingan Global (2008–2009): ketersaingan (competitiveness) adalah hal utama yang menentukan kesejahteraan negara-bangsa di lingkungan internasional
Organisasi bisnis global
Seiring kemajuan transportasi dan komunikasi, bisnis internasional tumbuh pesat setelah awal abad ke-20. Bisnis internasional mencakup semua transaksi komersial (swasta, penjualan, investasi, logistik, dan transportasi) yang terjadi antara dua wilayah, negara, dan bangsa atau lebih di luar batas politiknya. Diversifikasi internasional ini disesuaikan dengan kinerja dan inovasi, namun biasanya kinerja meningkat dan inovasi menurun.[41] Biasanya perusahaan-perusahaan swasta melakukan transaksi untuk mendapatkan laba.[42] Transaksi bisnis semacam ini melibatkan sumber daya ekonomi seperti modal, sumber daya alam, dan sumber daya manusia untuk produksi barang fisik dan jasa internasional seperti keuangan, perbankan, asuransi, konstruksi, dan aktivitas produksi lainnya.[43]Kerja sama bisnis internasional membuahkan perusahaan multinasional, yaitu perusahaan yang memiliki pendekatan global terhadap pasar dan produksi atau perusahaan yang beroperasi di lebih dari satu negara. Sebuah perusahaan multinasional bisa juga disebut perusahaan transnasional. Perusahaan multinasional terkenal mencakup perusahaan makanan cepat saji seperti McDonald's dan Yum Brands, produsen kendaraan seperti General Motors, Ford Motor Company, dan Toyota, produsen elektronika konsumen seperti Samsung, LG, dan Sony, dan perusahaan energi seperti ExxonMobil, Shell, dan BP. Sebagian besar perusahaan besar beroperasi di beberapa pasar nasional.
Perusahaan atau bisnis umumnya berpendapat bahwa kelangsungan di pasar global yang baru mengharuskan mereka untuk mencari barang, jasa, tenaga kerja, dan material dari luar negeri supaya produk dan teknologinya bisa terus diperbarui agar dapat bertahan di tengah-tengah persaingan yang memanas.[44] Menurut laporan terkini dari McKinsey Global Institute, arus barang, jasa, dan keuangan mencapai $26 triliun pada tahun 2012 atau 36 persen dari PDB global. Jumlah tersebut 1,5 kali lebih banyak ketimbang tahun 1990.[45]
Perdagangan internasional
Singapura, negara teratas di Enabling Trade Index, menerima globalisasi dan menjadi negara yang sangat maju
Keuntungan perdagangan absolut muncul ketika negara-negara dapat memproduksi suatu komoditas dengan biaya lebih rendah per unit ketimbang mitra dagangnya. Dengan logika yang sama, negara tersebut harus mengimpor komoditas yang memiliki kerugian absolut.[47] Meski ada kemungkinan untung dagang dari keuntungan absolut, keuntungan komparatif, yaitu kemampuan menawarkan barang dan jasa dengan biaya marjinal dan biaya kesempatan yang lebih rendah, memperluas batas kemungkinan pertukaran yang sama-sama menguntungkan. Di lingkungan bisnis yang terglobalisasi, perusahaan berpikir bahwa keuntungan komparatif yang ditawarkan perdagangan internasional merupakan hal yang penting agar bisa terus bersaing.
Perjanjian dagang, blok ekonomi, dan zona perdagangan khusus
Produk domestik bruto per kapita dalam dolar AS tahun 2011 per kapita, disesuaikan dengan inflasi dan paritas kemampuan beli
(skala log) dari tahun 1860 sampai 2011. Lingkaran populasi: Amerika
Serikat (kuning), Britania Raya (oranye), Jepang (merah), Cina (merah),
dan India (biru).[48]
Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zone; SEZ) adalah kawasan geografis hukum ekonomi dan hukum lainnya lebih condong ke pasar bebas daripada hukum nasional negara tersebut. Hukum nasional bisa ditangguhkan di dalam zona khusus ini. Kategori SEZ mencakup berbagai macam zona, termasuk Zona Perdagangan Bebas (FTZ), Zona Pemrosesan Ekspor (EPZ), Zona Bebas (FZ), kawasan industri (IE), pelabuhan bebas, Zona Perusahaan Kota, dan lain-lain. Biasanya, tujuan zona ini adalah meningkatkan investasi langsung asing oleh investor asing, terutama bisnis internasional atau perusahaan multinasional (MNC). Zona ini adalah wilayah khusus yang pajak perusahaannya sangat rendah atau bahkan ditiadakan sama sekali untuk mendorong aktivitas ekonomi. Pelabuhan bebas sejak dulu memiliki peraturan cukai yang menguntungkan, misalnya pelabuhan bebas Trieste. Seringkali pelabuhan bebas ini merupakan bagian dari zona ekonomi bebas.
FTZ adalah tempat barang didatangkan, ditangani, diproduksi atau disesuaikan, dan diekspor kembali tanpa campur tangan otoritas bea cukai. Ketika barang sudah pindah ke tangan konsumen di dalam negara di luar FTZ, barulah barang tersebut tunduk pada peraturan cukai yang ada. Zona perdagangan bebas ditetapkan di sekitar pelabuhan besar, bandara internasional, dan perbatasan nasional, tempat-tempat dengan keuntungan dagang secara geografis.[50] It is a region where a group of countries has agreed to reduce or eliminate trade barriers.[51]
Zona Industri Khusus (Qualified Industrial Zone; QIZ) adalah kawasan industri yang menaungi operasi pabrik di Yordania dan Mesir. QIZ adalah zona perdagangan bebas khusus yang didirikan bekerja sama dengan Israel untuk memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas antara Amerika Serikat dan israel. Di bawah perjanjian dagang dengan Yordania seperti yang ditetapkan Amerika Serikat, barang-barang yang diproduksi di QIZ bisa langsung masuk ke pasar AS tanpa tarif datau kuota impor jika memenuhi syarat tertentu. Untuk mendapat status tersebut, barang yang dihasilkan di zona ini harus mengandung sedikit sumbangan atau input dari Israel. Selain itu, nilai minimum sebesar 35% harus ditambahkan ke produk akhirnya. QIZ adalah ide pebisnis Yordania Omar Salah, dan QIZ pertama ditetapkan oleh Kongres Amerika Serikat pada tahun 1997.
Asia Pasifik disebut-sebut sebagai "kawasan dagang paling terintegrasi di muka Bumi" karena perdagangan intraregionalnya mencakup sekitar 50-60% dari total impor dan ekspor Asia Pasifik.[52] Asia Pasifik juga memiliki perdagangan ekstraregional. Ekspor barang konsumen seperti televisi, radio, sepeda, dan tekstil ke Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang turut mendorong ekspansi ekonomi.[53]
Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN[54] adalah perjanjian blok dagang Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) yang mendukung produsen lokal di semua negara ASEAN. Perjanjian AFTA ditandatangani pada 28 Januari 1992 di Singapura. Ketika perjanjian AFTA ditandatangani, ASEAN masih beranggotakan enam negara, yaitu Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Vietnam bergabung tahun 1995, Laos dan Myanmar tahun 1997 dan Kamboja tahun 1999.
Surga pajak
Aset Jerman di surga pajak jika dibandingkan dengan total PDB Jerman.[55] "7 Besar"-nya adalah Hong Kong, Irlandia, Lebanon, Liberia, Panama, Singapura, dan Swiss.
Laporan Tax Justice Network tahun 2012 memperkirakan bahwa antara US$21 triliun dan $32 triliun dilindungi dari pajak di sejumlah surga pajak rahasia di dunia. Apabila kekayaan sebanyak itu mendapat bunga 3% per tahunnya dan laba modalnya dipajaki sebesar 30%, pendapatan pajak bisa mencapai $190 miliar sampai $280 miliar, lebih banyak dibandingkan pelindung pajak manapun.[60] Jika aset lepas pantai rahasia ikut dihitung, beberapa negara pengutang bisa dianggap sebagai negara kreditur.[61] Akan tetapi, direktur kebijakan pajak Chartered Institute of Taxation mengaku skeptis dengan keakuratan jumlah tersebut.[62] Daniel J. Mitchell dari Cato Institute mengatakan bahwa laporan tersebut, saat menghitung pendapatan pajak yang hilang, berasumsi bahwa 100% uang yang disimpan di luar negeri merupakan upaya pengelakan pajak.[63]
Surga pajak menuai kritik karena sering berakhir dengan menumpuknya uang kas yang menganggur (idle cash)[64] yang mahal dan tidak efisien untuk repatriasi perusahaan.[65] Keuntungan pelindung pajak menciptakan insiden pajak yang merugikan masyarakat miskin.[66] Banyak surga pajak yang dianggap memiliki koneksi dengan pelaku "penipuan, pencucian uang, dan terorisme."[67] Walaupun banyak invetigasi penyalahgunaan surga pajak ilegal, jumlah pelaku yang dipidanakan tidak banyak.[68][69] Pelobian terkait surga pajak dan harga transfer juga dikritik.[70] Pandangan para akuntan terhadap kepantasan surga pajak telah berubah,[71] begitu pula pandangan para nasabah perusahaan,[72] pemerintahan,[73][74] dan politikus,[75][76] meskipun pemanfaatan surga pajak oleh perusahaan Fortune 500[77] dan lainnya masih lazim.[78] Rencana reformasi yang berpusat pada firma akuntansi yang masuk dalam Empat Besar terus didorong.[79] Beberapa pemerintahan tampaknya menggunakan spyware komputer untuk mengungkap neraca keuangan sejumlah perusahaan.[80]
Pariwisata internasional
Pariwisata adalah perjalanan untuk keperluan rekreasi, liburan, atau bisnis. Organisasi Pariwisata Dunia mendefinisikan wisatawan sebagai orang-orang yang "bepergian ke dan menetap di tempat-tempat selain lingkungan sekitar mereka selama tidak lebih dari satu tahun untuk keperluan liburan, bisnis, dan lain-lain".[81] Ada bermacam bentuk pariwisata seperti wisata pertanian, wisata kelahiran, wisata kuliner, wisata budaya, wisata lingkungan, wisata ekstrem, wisata geografi, wisata sejarah, wisata LGBT, wisata medis, wisata laut, wisata budaya pop, wisata agama, wisata kumuh, wisata perang, dan wisata kehidupan liar.Globalisasi membuat pariwisata sebagai aktivitas liburan global yang populer. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa saat ini juga ada sekitar 500.000 orang di dalam pesawat terbang di seluruh unia.[82]
Akibat resesi akhir 2000-an, permintaan perjalanan internasional turun drastis sejak paruh akhir 2008 sampai akhir 2009. Setelah meningkat sebanyak 5% pada paruh pertama 2008, pertumbuhan kedatangan wisatawan internasional mulai menurun pada paruh akhir 2008 dan persentase kenaikan untuk tahun itu turun menjadi 2%, berbeda dengan 7% pada tahun 2007.[83] Tren negatif ini semakin parah pada tahun 2009 karena merebaknya wabah virus influenza H1N1 sehingga jumlah kedatangan wisatawan internasional turun 4,2% pada tahun 2009 menjadi 880 juta orang, dan pendapatan pariwisata internasional turun 5,7%.[84] Salah satu pengecualian bagi perjalanan bebas adalah perjalanan dari Amerika Serikat ke Kanada dan Meksiko yang memiliki perbatasan semi-terbuka. Berdasarkan hukum Amerika Serikat, perjalanan ke negara-negara tersebut saat ini memerlukan paspor.[85]
Pada tahun 2010, jumlah uang yang berputar di bidang pariwisata internasional mencapai US$919 miliar, naik 6,5% sejak 2009, berkat peningkatan nilai riil sebesar 4,7%.[86] Tahun 2010, terdapat 940 juta kedatangan wisatawan internasional di seluruh dunia.[87]
Olahraga internasional
Olimpiade kuno merupakan serangkaian kompetisi yang diadakan antara perwakilan beberapa negara kota dan kerajaan dari Yunani Kuno. Kegiatan ini menampilkan pertandingan atletik, pertarungan, dan balap kereta kuda. Saat Olimpiade berlangsung, semua peperangan antara negara kota yang berpartisipasi ditunda sampai Olimpiade selesai.[88] Asal-usul Olimpiade dipenuhi misteri dan legenda.[89] Sepanjang abad ke-19, Olimpiade menjadi kegiatan global yang populer.
Meski sejumlah ekonom skeptis dengan manfaat ekonomi penyelenggaraan Olimpiade sambil menekankan bahwa "kegiatan mega" seperti ini memakan biaya besar, penyelenggaraan Olimpiade (atau pencalonannya saja) dapat meningkatkan nilai ekspor negara penyelenggara, karena negara penyelenggara atau kandidat memberi tanda-tanda keterbukaan perdagangan saat mencalonkan diri sebagai penyelenggara Olimpiade.[90] Selain itu, ada penelitian yang menunjukkan bahwa penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas memberi efek positif yang kuat terhadap sumbangan filantropis perusahaan yang berkantor pusat di kota penyelenggara sehingga menguntungkan sektor nirlaba lokal. Efek positif ini mulai muncul di tahun-tahun menjelang Olimpiade dan dapat bertahan beberapa tahun sesudahnya, tetapi tidak permanen. Temuan ini memperlihatkan bahwa penyelenggaraan Olimpiade mampu menciptakan kesempatan bagi pemerintah kota untuk memengaruhi perusahaan setempat agar menguntungkan sektor nirlaba lokal dan masyarakat sipil.[91] Olimpiade juga memberi efek negatif terhadap masyarakat di kota penyelenggara. Misalnya, Centre on Housing Rights and Evictions melaporkan bahwa persiapan Olimpiade membuat lebih dari dua juta orang terusir dari tempat tinggalnya selama dua dasawarsa terakhir dan merugikan masyarakat miskin.[92]
Globalisasi terus meningkatkan persaingan internasional di bidang olahraga. Piala Dunia FIFA merupakan pesta olahraga yang paling banyak ditonton di dunia. Sekitar 700 juta orang menyaksikan pertandingan final Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan.[93]
Menurut peelitian A.T. Kearney tahun 2011 terhadap tim, liga, dan federasi olahraga, industri olahraga global bernilai antara €350 miliar dan €450 miliar (US$480-$620 miliar).[94] Semuanya mencakup konstruksi infrastruktur, perlengkapan olahraga, produk berlisensi, dan pertandingan olahraga langsung.
Perdagangan internasional ilegal
Pasar gelap tanduk badak membuat populasi badak dunia menyusut sebanyak lebih dari 90 persen selama 40 tahun terakhir.[95]
Perdagangan obat-obatan
Pada tahun 2010, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) melaporkan bahwa perdagangan obat-obatan terlarang global menghasilkan lebih dari US$320 miliar per tahun.[97] PBB memperkirakan bahwa di seluruh dunia terdapat lebih dari 50 pengguna rutin heroin, kokain, dan obat sintetis.[98] Perdagangan spesies terancam internasional menempati posisi kedua di bawah perdagangan obat-obatan dalam "industri" penyelundupan.[99] Obat tradisional Cina biasanya membutuhkan bahan dari semua bagian tumbuhan, daun, batang, bunga, akar, serta bahan dari hewan dan mineral. Penggunaan bagian tubuh spesies terancam (seperti kuda laut, tanduk badak, tanduk antelope saiga, dan tulang dan cakar harimau) menciptakan pasar gelap pemburu yang memburu hewan-hewan terlarang.[100][101]Perdagangan dan penyelundupan manusia
Poster peringatan prostitusi dan perdagangan manusia di Korea Selatan untuk prajurit G.I. yang diterbitkan United States Forces Korea.
Perdagangan manusia berbeda dengan penyelundupan manusia. Dalam penyelundupan manusia, orang yang diselundupkan dengan sukarela meminta atau mempekerjakan seseorang, biasa disebut penyelundup, untuk memindahkan mereka secara diam-diam dari satu tempat ke tempat lain. Biasanya penyelundupan jenis ini melibatkan pemindahan dari satu negara ke negara yang pernah menolak masuk pihak terselundup di perbatasan internasional. Tidak ada penipuan saat perjanjian awal antara pihak penyelundup dan terselundup. Setelah masuk ke negara tujuan dan tiba di tempat akhir, orang yang diselundupkan biasanya bebas untuk mencari jalannya sendiri. Menurut International Centre for Migration Policy Development (ICMPD), penyelundupan manusia adalah kejahatan terhadap negara karena melanggar hukum imigrasi dan tidak menganggap pelanggaran hak-hak migran yang diselundupkan sebagai tindak kejahatan. Perdagangan manusia adalah kejahatan terhadap korbannya karena melanggar hak-hak korban melalui paksaan dan eksploitasi.[110]
Globalisasi ekonomi
Tahun 1944, 44 negara menghadiri Konferensi Bretton Woods untuk menstabilkan mata uang dunia dan menetapkan kredit untuk perdagangan internasional pada era pasca Perang Dunia II. Tatanan ekonomi internasional yang direncanakan oleh konferensi ini menjadi pemicu tatanan ekonomi neoliberal yang digunakan hari ini. Konferensi ini juga menubuhkan beberapa organisasi yang penting bagi terbentuknya ekonomi global dan sistem keuangan global, seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia.
Misalnya, reformasi ekonomi Cina menghadapkan Cina pada arus globalisasi tahun 1980-an. Para ahli menemukan bahwa Cina berhasil mencapai tingkat keterbukaan yang sulit ditemukan di negara-negara besar dan padat lainnya. Persaingan barang asing menyentuh hampir semua sektor ekonomi Cina. Investasi asing turut membantu meningkatkan kualitas produk dan pengetahuan dan standar, terutama di bidang industri berat. Pengalaman Cina menguatkan klaim bahwa globalisasi ikut menambah kekayaan negara miskin.[114] Pada 2005–2007, Pelabuhan Shanghai menyandang gelar pelabuhan tersibuk di dunia.[115][116][117][118]
Contoh lainnya, liberalisasi ekonomi di India dan reformasi ekonominya dimulai pada tahun 1991. Per 2009, sekitar 300 juta orang, setara dengan jumlah penduduk Amerika Serikat, telah keluar dari jeratan kemiskinan.[119] Di India, alihdaya proses bisnis disebut-sebut sebagai "mesin pembangunan utama India sampai beberapa dasawarsa selanjutnya yang banyak berkontribusi pada pertumbuhan PDB, penambahan lapangan pekerjaan, dan pemberantasan kemiskinan".[120][121]
Merah: Laba perusahaan A.S. setelah dikurangi pajak. Biru: Investasi
bisnis non-penduduk A.S. Keduanya diwakili oleh pangsa PDB tahun
1989–2012. Konsentrasi kekayaan laba perusahaan di surga pajak karena penghindaran pajak akibat penerapan kebijakan pengetatan bisa menghambat investasi sehingga memperlambat laju pertumbuhan.[122]
Sistem keuangan global
Pada awal abad ke-21, kerangka kerja perjanjian hukum, institusi, dan pelaku ekonomi formal dan informal dunia bersama-sama membantu arus modal keuangan internasional untuk keperluan investasi dan pendanaan perdagangan. Sistem keuangan global ini muncul saat terjadinya gelombang globalisasi ekonomi modern pertama yang ditandai dengan pendirian bank sentral, perjanjian multilateral, dan organisasi antarpemerintah yang bertujuan memperbaiki transparansi, regulasi, dan keefektifan pasar internasional.[123] Ekonomi dunia semakin terintegrasi secara finansial sepanjang abad ke-20 seiring terjadinya liberalisasi modal dan deregulasi sektor keuangan di setiap negara. Setelah terekspos dengna arus modal yang volatil, serangkaian krisis keuangan di Eropa, Asia, dan Amerika Latin turut berpengaruh pada negara-negara lain. Pada awal abad ke-21, berbagai lembaga keuangan tumbuh besar dengan jaringan aktivitas ekonomi yang lebih canggih dan terhubung. Ketika Amerika Serikat mengalami krisis keuangan pada awal abad tersebut, krisis tersebut merambat dengan cepat ke negara-negara lain. Krisis ini dikenal sebagai krisis keuangan global dan diakui sebagai pemicu Resesi Besar di seluruh dunia.Pengetatan
Pemerintah kadang menjalankan kebijakan pengetatan atau austeritas untuk mengurangi defisit anggaran saat ekonomi melesu. Kebijakan ini meliputi pemotongan belanja, kenaikan pajak, atau campuran keduanya.[124][125][126] Kebijakan pengetatan menunjukkan likuiditas pemerintah terhadap krediturnya dan badan penilai kredit dengan cara menyetarakan pendapatan fiskal dengan belanja.Efek pengetatan dari segi ekonomi belum jelas karena definisinya yang luas dan tidak spesifik, contoh eksperimen alamiahnya yang sedikit dari dulu, serta kemungkinan bercampur dengan efek peristiwa lain yang cenderung mendahului pengetatan seperti resesi dan krisis keuangan. Dalam makroekonomi, pengurangan belanja pemerintah akan meningkatkan jumlah pengangguran. Hal ini pula meningkatkan belanja jaring pengaman dan mengurangi pendapatan pajak sampai batas tertentu. Belanja pemerintah turut berkontribusi pada produk domestik bruto (PDB) sehingga rasio utang-ke-PDB yang menandakan likuiditas bisa jadi tidak segera membaik. Belanja defisit jangka pendek berkontribusi pada pertumbuhan PDB saat konsumen dan bisnis tidak mau atau tidak mampu belanja.[127] Menurut teori kontraksi fiskal ekspansioner (EFC), pengurangan belanja pemerintahan secara besar-besaran dapat mengubah ekspektasi pajak dan belanja pemerintah masa depan sehingga mendorong konsumsi swasta dan perluasan ekonomi secara menyeluruh.[128] Sejak 2011, Dana Moneter Internasional mengeluarkan peringatan terhadap upaya pengetatan yang dijalankan tanpa memperhatikan dasar-dasar ekonomi[129][130][131] dan banyak pengkritik yang mengatakan bahwa upaya pengetatan seringkali salah diarahkan dan berbahaya bagi ekonomi negara saat dijalankan.[132][133][134]
Pelarian modal
Pelarian modal terjadi ketika aset atau uang mengalir keluar dari suatu negara dengan cepat karena negara tersebut baru menaikkan tingkat pajak, tarif, upah tenaga kerja, atau kondisi keuangan lainnya yang dianggap merugikan seperti kemacetan utang pemeirntah yang mengganggu para investor. Pelarian modal kadang mengakibatkan hilangnya kekayaan dengan sangat cepat dan biasanya diiringi oleh turunnya nilai tukar negara yang terdampak dengan tajam, lantas memicu depresiasi nilai tukar mata uang atau devaluasi paksa dengan nilai tukar tetap. Peristiwa ini bisa sangat merugikan jika modalnya dimiliki oleh warga negara terdampak, karena bukan hanya warganya yang dibebani oleh hilangnya kepercayaan pada ekonomi dan devaluasi mata uangnya, tetapi juga aset mereka kehilangan banyak nilai nominalnya. Ini pun mengakibatkan penurunan tajam daya beli aset negara tersebut dan kenaikan harga barang impor.
Krisis ekonomi Argentina tahun 2001 mengakibatkan devaluasi mata uang dan pelarian modal yang kemudian menurunkan jumlah impor.
Pelarian modal juga memengaruhi negara maju. Artikel tahun 2009 di The Times melaporkan bahwa ratusan pemberi pinjaman dan pengusaha kaya belakangan ini keluar dari Britania Raya karena pemerintahnya menaikkan pajak. Mereka pindah ke tempat-tempat yang pajaknya rendah seperti Jersey, Guernsey, Pulau Man, dan Kepulauan Virgin Britania.[136] Bulan Mei 2012, skala pelarian modal dari Yunani pasca pemilu legislatif "tanpa hasil" diperkirakan mencapai €4 miliar per minggu.[137] Pada akhir bulan itu, Bank Sentral Spanyol mengungkapkan bahwa arus modal senilai €97 miliar keluar dari ekonomi Spanyol pada kuartal pertama 2012.[138]
Ukuran globalisasi
Indeks
Pengukuran globalisasi ekonomi berfokus pada berbagai variabel seperti perdagangan, Investasi Langsung Asing (FDI), investasi portofolio, dan pendapatan. Indeks-indeks baru justru berusaha mengukur globalisasi dengan variabel yang lebih umum seperti aspek politik, sosial, budaya, dan lingkungan.[139]Salah satu indeks globalisasi adalah KOF Index. KOF Index mengukur tiga dimensi utama globalisasi, yaitu ekonomi, sosial, dan politik.[140] Another is the A.T. Kearney / Foreign Policy Magazine Globalization Index.[141]
|
|
Kebijakan perdagangan bebas
Enabling Trade Index mengukur faktor, kebijakan, dan jasa yang membantu perdagangan barang lintas perbatasan sampai kota tujuan. Indeks ini terdiri dari empat sub-indeks, yakni akses pasar, kepengurusan perbatasan, sarana transportasi dan komunikasi, dan lingkungan bisnis. 20 negara teratas dalam indeks versi tahun 2010 adalah:[142]Singapura - 6,06
Hong Kong - 5,70
Denmark - 5,41
Swedia - 5,41
Swiss - 5,37
Selandia Baru - 5,33
Norwegia - 5,32
Kanada - 5,29
Luksemburg - 5,28
Belanda - 5,26
Islandia - 5,26
Finlandia - 5,25
Jerman - 5,20
Austria - 5,17
Australia - 5,13
Uni Emirat Arab - 5,12
Britania Raya - 5,06
Chili - 5,06
Amerika Serikat - 5,03
Perancis - 5,02
Globalisasi sosial-budaya
Budaya
Globalisasi budaya telah meningkatkan kontak lintas budaya namun diiringi dengan berkurangnya keunikan komunitas yang dulunya terisolasi. Misalnya, sushi dapat ditemukan di Jerman dan Jepang, tetapi di sisi lain popularitas Euro-Disney melampaui popularitas kota Paris sehingga bisa saja mengurangi permintaan roti Perancis yang autentik.[143][144][145] Kontribusi globalisasi pada pengasingan seseorang dari tradisinya masih tergolong rendah daripada dampak modernitas itu sendiri seperti yang dikatakan eksistensialis Jean-Paul Sartre dan Albert Camus. Globalisasi telah memperluas kesempatan memperoleh rekreasi melalui penyebaran budaya pop lewat Internet dan televisi satelit.Agama adalah salah satu elemen budaya pertama yang mengglobal; ada yang disebarkan melalui paksa, migrasi, evangelis, imperialis, dan pedagang. Kristen, Islam, Buddhisme, dan sekte-sekte terbaru seperti Mormonisme sudah memengaruhi kebudayaan endemik di tempat-tempat yang jauh dari tempat asalnya.[146]
Istilah globalisasi bermakna transformasi. Tradisi kebudayaan seperti musik tradisional bisa saja lenyap atau berubah menjadi gabungan tradisi. Globalisasi mampu menciptakan keadaan darurat demi melestarikan warisan musik. Para pengarsip berusaha mengoleksi, merekam, atau menulis repertoar sebelum melodinya mengalami asimilasi atau penyesuaian. Musisi lokal berjuang mendapatkan keautentikan dan melestarikan tradisi musik daerah. Globalisasi dapat membuat para pementas atau seniman mengabaikan instrumen musik tradisional. Genre gabungan yang baru bisa menjadi bahan penelitian yang menarik.[151]
Globalisasi mendorong fenomena Musik Dunia dengan mengizinkan musik yang direkam di suatu tempat untuk mencapai pendengar di dunia Barat yang hendak mencari ide dan suara baru. Contohnya, banyak musisi Barat yang telah mengadopsi inovasi yang berasal dari kebudayaan lain.[152]
Istilah "Musik Dunia" awalnya ditujukan pada musik etnis. Sekarang, globalisasi memperluas cakupan istilah ini hingga sub-genre hibrid seperti World fusion, Global fusion, Ethnic fusion[153] and Worldbeat[154][155]
Bourdieu mengatakan bahwa persepsi konsumsi bisa dipandang sebagai identifikasi diri dan pembentukan identitas. Dari sisi musik, ini artinya setiap manusia memiliki identitas musiknya sendiri berdasarkan kesukaan dan selera. Kesukaan dan selera ini sangat dipengaruhi oleh kebudayaan karena kebudayaan adalah fakto paling mendasar yang membentuk keinginan dan perilaku seseorang. Konsep kebudayaan lokal sekarang berubah akibat globalisasi. Selain itu, globalisasi turut meningkatkan interdependensi faktor pribadi, politik, budaya, dan ekonomi.[157]
Laporan UNESCO tahun 2005[158] menunjukkan bahwa pertukaran budaya makin sering terjadi dari kawasan Asia Timur, namun negara-negara Barat masih eksportir budaya terbesar. Pada tahun 2002, Cina merupakan eksportir budaya terbesar di dunia setelah Britania Raya dan Amerika Serikat. Antara tahun 1994 dan 2002, pangsa ekspor budaya Amerika Utara dan Uni Eropa menurun, sementara ekspor budaya Asia naik melampaui Amerika Utara. Fakta lainnya yang terkait adalah populasi dan luas Asia lebih besar berkali-kali lipat daripada Amerika Utara. Amerikanisasi berhubungan dengan masa-masa tingginya pengaruh politik tinggi Amerika Serikat dan pertumbuhan toko, pasar, dan barang Amerika Serikat yang diekspor ke negara lain.
Globalisasi, sebagia fenomena yang beragam, berkaitan dengan dunia politik multilateral serta perkembangan pasar dan benda budaya antarnegara. Pengalaman yang dialami India mengungkapkan jamaknya pengaruh globalisasi budaya.[159]
Multilingualisme dan lingua franca
Penutur multibahasa melampaui jumlah penutur monobahasa di dunia.[160] Saat ini, kebanyakan orang di dunia bisa menuturkan lebih dari satu bahasa.[161] Kontak bahasa terjadi ketika dua bahasa/varietas atau lebih saling beinteraksi. Kontak bahasa terjadi dalam berbagai fenomena, termasuk konvergensi bahasa, peminjaman kata, dan releksifikasi. Hasil kontak yang paling lazim adalah pidgin, kreol, ganti kode, dan bahasa campuran.Multilingualisme mencuat sebagai fenomena sosial yang diatur oleh kebutuhan globalisasi dan keterbukaan budaya.[162] Berkat kemudahan akses informasi yang difasilitasi Internet, umat manusia semakin sering terekspos dengan bahasa asing, lantas memicu perlunya penguasaan beberapa bahasa.
Lingua franca adalah bahasa yang secara sistematis dipakai untuk berkomunikasi antar orang-orang yang bahasa ibunya tidak sama, biasanya memakai bahasa ketiga yang berbeda dengan bahasa ibu dua orang tersebut.[163] Saat ini, bahasa kedua yang paling populer adalah bahasa Inggris. Sekitar 3,5 miliar orang lumayan paham dengan bahasa tersebut.[164] Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling dominan di Internet.[165] Sekitar 35% surat, teleks, dan kawat di dunia ditulis dalam bahasa Inggris; sekitar 40% program radio dunia disiarkan dalam bahasa Inggris.[166]
Meski penutur multibahasa sering dijumpai, jumlah bahasa yang dituturkan secara global terus berkurang. 20 bahasa terbesar yang penuturnya lebih dari 50 juta orang dituturkan oleh 50% penduduk dunia, sedangkan sisanya dituturkan di daerah-daerah kecil. Kebanyakan bahasa memiliki kurang dari 10.000 penutur.[167] Bahasa yang kurang tersebar ini sejak dulu terlindungi oleh lokasi geografisnya yang tertutup. Sekarang, penutur bahasa daerah dan minoritas makin sulit bersaing dengan penutur bahasa dominan sehinga bahasa-bahasa tersebut dianggap bahasa terancam. Jumlah total bahasa di dunia tepatnya tidak diketahui dan perkiraannya bermacam-macam tergantung faktornya. Perkiraan saat ini berada di antara 6.000 dan 7.000 bahasa[168] dan sekitar 50–90% di antaranya akan punah pada tahun 2100.[167]
Politik
Secara umum, globalisasi pada akhirnya akan mengurangi keistimewaan negara bangsa. Lembaga supranasional seperti Uni Eropa, WTO, G8, atau Mahkamah Internasional menggantikan atau memperluas fungsi negara untuk memfasilitasi perjanjian internasional.[169] Sejumlah pengamat menyebut globalisasi sebagai penyebab turunnya kekuatan Amerika Serikat, salah satunya akibat defisit perdagangan AS yang tinggi. Hal ini memicu perpindahan kekuatan global ke negara-negara Asia seperti Cina yang memiliki kekuatan pasar dan berhasil meraih level pertumbuhan yang luar biasa. Per 2011, ekonomi Cina diperkirakan akan mengalahkan Amerika Serikat pada tahun 2025.[170]Organisasi nonpemerintah terus memengaruhi kebijakan publik melintasi batas negara, termasuk di bidang bantuan kemanusiaan dan pembangunan negara.[171] Organisasi amal dengan misi global juga selangkah di depan di bidang kemanusiaan. Badan amal seperti Bill and Melinda Gates Foundation, Accion International, Acumen Fund (sekarang Acumen), dan Echoing Green menggabungkan model bisnis dengan filantropi yang kemudian melahirkan organisasi bisnis seperti Global Philanthropy Group dan asosiasi filantropi baru seperti Global Philanthropy Forum. Proyek-proyek Bill and Melinda Gates Foundation mencakup komitmen senilai ratusan miliar dolar untuk mendanai imunisasi di beberapa negara miskin yang pertumbuhannya cepat,[172] serta ratusan juta dolar untuk mendanai program sosialisasi menabung bagi orang-orang miskin.[173] Hudson Institute memperkirakan bahwa total aliran dana dari filantropis swasta ke negara-negara berkembang mencapai US$59 miliar pada tahun 2010.[174]
Menanggapi globalisasi, sejumlah negara mulai menganut kebijakan isolasionisme. Misalnya, pemerintah Korea Utara mempersulit orang asing untuk memasuki negaranya dan sangat mengawasi aktivitas mereka seandainya dibolehkan masuk. Para pekerja sosial diperiksa secara menyeluruh dan tidak diizinkan mengunjungi tempat-tempat yang dilarang pemerintah. Warga Korea Utara tidak bisa seenaknya keluar dari negara itu.[175][176]
Media dan opini publik
Penelitian tahun 2005 oleh Peer Fiss dan Paul Hirsch menemukan peningkatan jumlah artikel negatif terhadap globalisasi pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun 1998, artikel negatif mengalahkan artikel positif dengan perbandingan dua banding satu.[177] Pada tahun 2008, Greg Ip mengklaim bahwa kenaikan jumlah penolakan terhadap globalisasi ini diakibatkan oleh nafsu ekonomi pribadi.[178] Jumlah artikel koran yang cenderung negatif bertambah dari 10% total artikel koran tahun 1991 menjadi 55% pada tahun 1999. Peningkatan ini terjadi pada masa ketika jumlah total artikel mengenai globalisasi nyaris berlipat ganda.[177]Sejumlah jajak pendapat internasional menunjukkan bahwa penduduk negara berkembang cenderung lebih menyukai globalisasi.[179] BBC menemukan bahwa semakin banyak masyarakat negara berkembang yang menganggap globalisasi berjalan terlalu cepat. Di beberapa negara seperti Meksiko, Amerika Tengah, Indonesia, Brazil, dan Kenya, mayoritas masyarakatnya justru merasa globalisasi berjalan terlalu lambat.[180]
Philip Gordon mengatakan bahwa, "[per 2004] mayoritas warga Eropa percaya bahwa globalisasi dapat memperkaya hidup mereka, dan percaya bahwa Uni Eropa dapat membantu mereka memanfaatkan keuntungan globalisasi sekaligus melindungi mereka dari dampak negatifnya."[181] Penolakan lebih banyak berasal dari kalangan sosialis, grup lingkungan, dan nasionalis.
Penduduk UE tampak tidak merasa terancam oleh globalisasi pada 2004. Pasar pekerjaan UE lebih stabil dan kecil sekali kemungkinan pemotongan upah/tunjangan bagi para pekerjanya. Anggaran sosial di Uni Eropa lebih tinggi daripada Amerika Serikat.[182] Dalam jajak pendapat di Denmark tahun 2007, 76% responden menjawab bahwa globalisasi adalah sesuatu yang bagus.[183]
Fiss, et al., menyurvei opini publik Amerika Serikat tahun 1993. Survei mereka menunjukkan bahwa pada tahun 1993 lebih dari 40% responden tidak kenal dengan konsep globalisasi. Ketika survei ini dilakukan lagi tahun 1998, 89% responden memiliki pandangan yang terbelah terhadap globalisasi, ada yang baik dan ada yang buruk. Pada saat yang sama, diskursus tentang globalisasi bermula di komunitas keuangan sebelum beralih ke perdebatan panas antara pendukung dan penentang dari kalangan pelajar dan pekerja. Polarisasi pendapat meningkat secara dramatis setelah WTO dibentuk tahun 1995; peristiwa ini dan unjuk rasa selanjutnya memunculkan pergerakan anti-globalisasi yang lebih besar.[177] Awalnya, pekerja berpendidikan tinggi berkemungkinan besar untuk mendukung globalisasi. Pekerja kurang berpendidikan, yang lebih layak bersaing dengan imigran dan pekerja di negara berkembang, cenderung menentang globalisasi. Situasi berubah pasca krisis keuangan 2007. Menurut jajak pendapat tahun 1997, 58% lulusan universitas mengatakan bahwa globalisasi bagus bagi Amerika Serikat. Pada 2008, hanya 33% lulusan universitas yang berkata seperti itu. Responden yang pendidikan terakhirnya SMA juga menentang globalisasi.[178]
Menurut Takenaka Heizo dan Chida Ryokichi, pada 1998 ada persepsi di Jepang bahwa ekonomi mereka "kecil dan rapuh". Jepang memang minim sumber daya dan menggunakan aktivitas ekspor untuk membeli bahan mentah. Kegelisahan atas posisi mereka ini memunculkan istilah-istilah seperti internasionalisasi dan globalisasi ke percakapan sehari-hari. Namun tradisi Jepang dari dulu mengutamakan pemenuhan kebutuhan diri semampunya, terutama dalam hal pertanian.[184]
Keadaan bisa saja berubah pasca krisis keuangan 2007. BBC World Public Poll yang dilakukan tahun 2008 saat krisis terjadi menunjukkan bahwa penolakan globalisasi di negara-negara maju terus meningkat. Jajak pendapat BBC bertanya apakah globalisasi tumbuh terlalu cepat atau tidak. Jawaban positif lebih banyak di Perancis, Spanyol, Jepang, Korea Selatan, dan Jerman. Tren penolakan di negara-negara ini tampaknya lebih kuat daripada di Amerika Serikat. Jajak pendapat tersebut juga mengaitkan kecenderungan anggapan bahwa globalisasi berjalan terlalu cepat dengan persepsi bahwa kerentanan ekonomi dan kesenjangan sosial terus meningkat.[180]
Banyak pihak di negara berkembang memandang globalisasi sebagai penggerak positif yang mengangkat mereka dari jeratan kemiskinan.[185] Pihak penentang globalisasi biasanya menggabungkna permasalahan lingkungan dengan nasionalisme. Mereka menganggap pemerintah sebagai agen neo-kolonialisme yang tunduk kepada perusahaan multinasional.[186] Kritik semacam ini berasal dari kelas menengah. Brookings Institute berpendapat bahwa kritik muncul karena kelas menengah melihat kelompok masyarakat berpendapatan rendah yang mobilitas sosialnya ke atas mengancam keamanan ekonomi mereka.[187]
Meski banyak kritikus menyalahkan globalisasi atas menurunna kelas menengah di negara-negara maju, kelas menengah justru tumbuh cepat di negara-negara berkembang.[188] Disertai urbanisasi, pertumbuhan kelas menengah semakin memperlebar celah kemakmuran antara kota dan desa.[189] Tahun 2002, 70% penduduk India tinggal di pedesaan dan bergantung pada sumber daya alam untuk aktivitas sehari-hari.[186] Akibatnya, organisasi masyarakat di pedesaan sering merasa keberatan dengan proses globalisasi.[190]
Organisasi nirlaba Reporters Without Borders setiap tahunnya merilis Indeks Kebebasan Pers, yaitu peringkat negara-negara di dunia berdasarkan catatan kebebasan pers pada tahun sebelumnya. Indeks ini mencerminkan tingkat kebebasan yang dinikmati jurnalis, kantor berita, dan netizen di setiap negara, serta upaya pemerintah untuk menghormati dan menjamin kebebasan ini.
Internet
Walaupun banyak pihak mengklaim perdagangan Internet membawa keuntungan ekonomi, ada pula bukti bahwa beberapa elemen Internet seperti peta dan jasa berbasis lokasi bisa mendorong kesenjangan ekonomi dan celah digital.[195] Perdagangan elektronik mungkin ikut bertanggung jawab atas konsolidasi dan lenyapnya bisnis rumah tangga (mom and pop, brick and mortar) sehingga terjadi peningkatan kesenjangan pendapatan.[196][197][198]
Komunitas daring adalah komunitas virtual yang eksis di Internet, dan anggota-anggotanya dapat membuatnya eksis dengan ambil bagian dalam ritual keanggotaan. Perubahan sosio-teknis yang besar bisa jadi diakibatkan oleh jejaring sosial Internet.[199]
Pertumbuhan penduduk
Penduduk dunia terus mengalami pertumbuhan sejak akhir Kelaparan Besar dan Wabah Hitam tahun 1350 pada angka 370 juta.[200] Tingkat pertumbuhan tertinggi – penduduk dunia bertambah di atas 1,8% per tahun – sempat terjadi pada 1950-an dan agak lama pada 1960-an dan 1970-an. Tingkat pertumbuhan memuncak di level 2,2% pada tahun 1963, dan turun sampai 1,1% pada tahun 2011. Total kelahiran tahunan sedang tinggi-tingginya pada akhir 1980-an atau sekitar 138 juta jiwa.[201] Tingkat kelahiran ini diperkirakan bertahan di level tahun 2011 sebanyak 134 juta jiwa. Tingkat kematian mencapai 56 juta jiwa per tahun dan diperkirakan naik menjadi 80 juta jiwa per tahun pada 2040.[202] Proyeksi terkini menunjukkan adanya kenaikan jumlah penduduk (namun tingkat pertumbuhannya turun perlahan) dan populasi dunia diperkirakan mencapai 7,5 dan 10.5 miliar tahun 2050.[203][204]Kepala International Food Policy Research Institute, menyatakan pada tahun 2008 bahwa perubahan pola makan secara bertahap di kalangan orang kaya baru adalah faktor terpenting yang mendorong kenaikan harga pangan dunia.[205] Sejak 1950 sampai 1984, seiring terjadinya transformasi pertanian di seluruh dunia melalui Revolusi Hijau, produksi gandum naik lebih dari 250%.[206] Populasi dunia bertambah 4 miliar jiwa sejak awal Revolusi Hijau. Tanpa Revolusi Hijau, akan terjadi kelaparan dan malnutrisi yang lebih besar daripada yang didokumentasikan PBB saat ini; sekitar 850 juta orang menderita malnutrisi kronis tahun 2005).[207][208] Muncul kekhawatiran mengenai naiknya tingkat erosi tanah karena semakin banyak lahan digarap menggunakan peralatan mekanik, pupuk kimia, dan alat lainnya.[209][210][211] Dengan berlipatnya konsumsi makanan laut oleh manusia dalam 30 tahun terakhir yang menyusutkan tambak dan menghancurkan ekosistem laut, manusia perlu menyadari untuk menciptakan suplai makanan laut yang berkelanjutan.[212]
Pertumbuhan penduduk, berkurangnya sumber energi, kelangkaan pangan akan menghasilkan "badai sempurna" pada tahun 2030 menurut kepala ilmuwan pemerintah Britania Raya, John Beddington. Beddington mencatat bahwa cadangan pangan dunia berada di titik terendah dalam 50 tahun terakhir dan dunia akan memerlukan energi, pangan, dan air 50% lebih banyak pada 2030..[213][214] Kondisi pembalakan hutan dan erosi tanah di kawasan Sahel di selatan Sahara sangat parah.[215]
Dunia harus menghasilkan makanan 70% lebih banyak pada 2050 untuk memberi makan sekitar 2,3 miliar jiwa tambahan dan memenuhi permintaan seiring naiknya pendapatan, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB .[216] Sejumlah peneliti sosial telah memperingatkan adanya kemungkinan bahwa peradaban global akan mengalami periode kontraksi dan re-lokalisasi ekonomi akibat berkurangnya bahan bakar fosil dan naiknya krisis transportasi dan produksi makanan.[217][218][219] Helga Vierich memprediksi kembalinya aktivitas ekonomi lokal berkelanjutan seperti pemburu-pengumpul, hortikultura, dan pastoralisme.[220]
Urbanisasi
Pertumbuhan penduduk sepanjang masa industrialisasi cepat dan globalisasi abad ke-20 diiringi dengan bertambahnya urbanisasi di seluruh dunia. Tahun 2011, mayoritas penduduk dunia tinggal di kawasan perkotaan industri yang dikelilingi pabrik dan kantor bisnis, bukan lagi kawasan pedesaan tradisional yang didominasi pertanian.[221] Beberapa kota mulai muncul sebagai kota global dan dianggap sebagai pusat aktivitas ekonomi penting dunia. Megakota, yaitu kota yang dihuni lebih dari 10 juta orang, bertambah jumlahnya dari 3 kota pada tahun 1973 menjadi 24 pada tahun 2013. Jumlah tersebut diperkirakan bertambah menjadi 27 kota pada 2025.[222]Kesehatan
Kesehatan global merupakan kesehatan penduduk dalam konteks global yang mencakup sudut pandang dan kekhawatiran negara-negara.[223] Permasalahan kesehatan yang melintasi perbatasan negara atau memiliki pengaruh poliitk dan ekonomi secara global terus ditekankan.[224] Kesehatan global didefinisikan sebagai 'bidang studi, penelitian, dan praktik yang prioritasnya adalah memperbaiki kesehatan dan mencapai kesetaraan kesehatan untuk semua orang di dunia'.[225] Lantas kesehatan global berkutat dengan perbaikan kesehatan dunia, pengurangan kesenjangan, dan perlindungan dari ancaman global yang tidak peduli dengan perbatasan negara.[226] Global Mental Health merupakan salah satu penerapan prinsip tersebut di ranah kesehatan mental.[227]Perjalanan internasional ikut menyebarkan penyakit menular yang mematikan.[229] Moda transportasi modern memungkinkan orang dan barang dalam jumlah besar bepergian keliling dunia secara lebih cepat, tetapi mereka juga membuka celah bagi perpindahan vektor penyakit lintas benua.[230] Salah satunya adalah AIDS/HIV.[231] Akibat imigrasi, sekitar 500.000 orang di Amerika Serikat diyakini menderita penyakit Chagas.[232] Pada tahun 2006, kadar tuberkulosis (TB) di kalangan penduduk Amerika Serikat kelahiran luar negeri 9,5 kali lipat lebih besar daripada penduduk kelahiran A.S.[233] Berawal di Asia, Wabah Hitam menewaskan sedikitnya sepertiga penduduk Eropa pada abad ke-14.[234] Kehancuran yang lebih parah dialami oleh penduduk asli benua Amerika setelah kedatangan pendatang Eropa "Dunia Baru" seperti Aztec, Maya, dan Inca tewas akibat penyakit cacar yang menyebar melalui proses kolonisasi Eropa.
Lingkungan alam global
Lingkungan alam mencakup semua makhluk hidup dan benda tak hidup yang terbentuk secara alamiah di Bumi atau suatu wilayah. Lingkungan alam adalah lingkungan yang meliputi interaksi seluruh spesies makhluk hidup.[235] Lingkungan alam berbeda dengan lingkungan bangun yang terdiri dari daerah dan komponen yang sangat dipengaruhi aktivitas manusia. Sulit untuk menemukan lingkungan yang benar-benar alami. Kealamiahan (naturalness) bervariasi dalam satu kontinuum, mulai dari 100% alami sampai 0% alami. Kita bisa mempertimbangkan berbagai aspek atau komponen lingkungan, lalu mengamati bahwa tingkat kealamiahannya tidak seragam.[236] Meski begitu, di dunia ini sudah tercipta sistem gabungan manusia–lingkungan.Laporan State of the World tahun 2006 mencantumkan bahwa pertumbuhan ekonomi India dan Cina yang tinggi tidak berkelanjutan. Laporan tersebut menyatakan, "Kapasitas ekologi dunia tidak cukup untuk memuaskan keinginan Cina, India, Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat serta keinginan seluruh dunia secara berkelanjutan."[239] Dalam artikel berita tahun 2006, BBC melaporkan, "...apabila Cina dan India mengonsumsi sumber daya per kapita yang sama seperti Amerika Serikat atau Jepang pada 2030, seisi planet Bumi dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka semua."[239] Dalam jangka panjang, efek ini dapat mengakibatkan bertambahnya konflik perebutan sumber daya alam[240] dan bencana Malthus. Investasi langsung internasional di negara berkembang akan memunculkan "race to the bottom" karena negara-negara tersebut berlomba-lomba melonggarkan hukum perlindungan lingkungan dan sumber daya alamnya untuk menarik modal asing.[8][241] Kebalikan teori ini bisa pula terjadi seandainya negara maju mempertahankan aktivitas ramah lingkungan dan membebankan tanggung jawabnya pada negara target investasinya, lantas menciptakan fenomena "race to the top".[8]
Hutan terbakar di Brasil. Pembalakan hutan untuk mendirikan peternakan adalah penyebab utama deforestasi di Amazon Brasil sejak pertengahan 1960-an. Kacang kedelai merupakan salh satu kontributor deforestasi terbesar di Amazon Brasil.[242]
Perubahan modal alam mulai mengikis pemikiran ekonomi di salah satu bidang utama globalisasi ekonomi: pembagian tenaga kerja internasional dan produksi yang berbasis pada rantai persediaan global.[246] Batas keplanetan untuk sejumlah sumber daya alam strategis telah dicapai, dan sumber daya lainnya hampir mencapai batasnya. Seiring waktu, puncak minyak dan perubahan iklim akan menyebabkan "puncak globalisasi" yang dapat dilihat dari berkurangnya ton-mil barang yang diangkut lintas lautan dan benua. keunggulan komparatif rantai persediaan global akan dipatahkan oleh kenaikan biaya transportasi dan penundaan saat barang transit.[246]
Cina dan India meningkatkan konsumsi bahan bakar fosil mereka setelah ekonominya beralih dari pertanian subsisten ke industri dan urbanisasi.[247][248] Konsumsi minyak Cina naik 8% setiap tahun antara 2002 dan 2006, bertambah dua kali lipat sejak 1996–2006.[249] Tahun 2007, Cina mengalahkan Amerika Serikat sebagai produsen emisi CO2 terbesar di dunia.[250] Hanya 1 persen dari 560 juta penduduk kota di Cina (per 2007) yang menghirup udara bersih sesuai standar Uni Eropa. Ini artinya negara-negara maju bisa "mengalihdayakan" sebagian polusi konsumsinya ke negara yang punya banyak industri penghasil polusi.
Masyarakat memanfaatkan sumber daya hutan untuk menapai tingkat pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Dari dulu, hutan di negara-negara berkembang awal mengalami "transisi hutan", yaitu periode deforestasi dan reforestasi ketika masyarakat di sekitarnya semakin maju, terindustrialisasi, dan memindahkan produksi sumber daya alam primernya ke negara lain melalui impor. Untuk negara di pinggir sistem global, tidak ada negara yang bisa dijadikan tempat pemindahan produksi SDA, dan degradasi hutan akan berlangsung tanpa henti. Transisi hutan memberi pengaruh besar terhadap hidrologi, perubahan iklim, dan keragaman hayati suatu wilayah melalui penurunan kualitas air serta penumpukan gas rumah kaca melalui reboisasi hutan baru menjadi hutan generasi kedua dan ketiga.[251][252] Sumber utama deforestasi adalah industri perkayuan yang didominasi oleh Cina dan Jepang.[253] Pasar minyak palem global mengakibatkan deforestasi parah di Asia Tenggara sehingga banyak spesies hewan yang terancam keberlangsungannya, seperti badak, harimau, dan orangutan.[254][255]
Tanpa daur ulang, seng akan habis terpakai pada tahun 2037, indium dan hafnium akan habis tahun 2017, dan terbium habis pada tahun 2012.[256] Fenomena "puncak" lainnya, seperti puncak minyak, puncak batubara, puncak gas, puncak air, dan puncak gandum, ikut memengaruhi ketersediaan dan keberlangsungan modal alam.
Pada tahun 2003, 29% tambak laut terbuka terancam gagal.[257] Jurnal Science merilis sebuah penelitian empat tahun pada November 2006 yang memprediksi bahwa dengan frekuensi saat ini, dunia akan kehabisan makanan laut liar pada tahun 2048.[258] Sebaliknya, globalisasi menciptakan pasar global untuk budi daya ikan dan makanan laut yang pada tahun 2009 menyediakan 38% persediaan dunia dan mampu mengurangi pemancingan berlebih.[259]
Perdagangan barang global bergantung pada transportasi barang yang andal dan murah dalam rantai persediaan yang rumit dan jauh.[246] Pemanasan global dan puncak minyak menghambat globalisasi karena memiliki dampak atas biaya transportasi dan pergerakan barang. Karena melawan pola geografis keunggulan komparatif dengan biaya transportasi yang tinggi, perubahan iklim dan puncak minyak dapat mengakibatkan puncak globalisasi. Setelah puncak globalisasi, volume ekspor akan menurun berdasarkan ton-mil barang yang diangkut.[260]






0 komentar:
Posting Komentar